Tuesday, April 10, 2007

Rafting di Cicatih - 07 April 2007


Memaknai Kehidupan melalui Arung Jeram

"..Sungguh, betapa kegiatan mengarungi jeram ini dapat mencerminkan kehidupan yang sebenarnya.
Ada kalanya suatu saat hidup kita mengalir di arus tenang dan melenakan. Atau ada saatnya melampaui ceruk-ceruk kecil di antara bebatuan ujian yang dapat dilalui dengan mudah, atau dapat pula kita tergulung arus, lalu terbang tinggi sekali, walaupun akhirnya kembali jatuh, terhempas ke bumi, nyeri,.. seakan tanpa nyawa.."

Prolog

Bermula dari dua buah email Saudara LaTahzan yang masuk ke mailbox email saya, yang satu dari Dina dan yang satu lagi dari Junrial, LaTahzaner yang sedang menempuh karir di negeri jiran, Malaysia. Keduanya secara terpisah mengusulkan adanya kegiatan untuk mengisi long-weekend pekan ini.

Setelah melalui negosiasi via email, akhirnya disepakatilah bahwa kita akan berarung jeram. Pertama, karena kegiatan ini berhubungan dengan air, dan personil LT belum pernah mengadakan kegiatan rame-rame yang berurusan dengan olahraga air. Kedua, kondisi cuaca yang sudah mulai penghabisan musim hujan tetapi curah hujan masih lumayan tinggi, pas untuk arung jeram. Dan alasan ketiga yang lebih bersifat pribadi, insya Allah membayar hutang saya kepada Junrial yang tahun lalu mengajak saya ke pulau Seribu dan Arung Jeram, tapi keduanya saya tolak karena saya khawatir dengan cuaca.

Keberangkatan

Tibalah hari H, tanggal 7 April, yang telah disepakati untuk melakukan rafting ke Sungai Cicatih. Berangkat dari starting point Sentra Mulia, enam orang dari kami yaitu Dina, Lintang, Junrial, Donny, Asap, dan saya sendiri akan memulai perjalanan ke Sukabumi. Pada awalnya sempat ada miskomunikasi dengan Asap yang ternyata 1 jam menunggu dengan setia di halte, sementara kita semua ngumpul di belakang sentra, maaf ya Sap lupa ngasih tahu .... Secara mengejutkan, ketika pagi itu kami sarapan terlebih dahulu, kami bertemu dengan pasangan-yang-semakin-mesra, Gonata dan Jayanti. Sambil nyantap bubur dan teh botol, kami juga sekaligus meminta doa restu dari pasangan LT ini agar kami berangkat dan kembali pulang ke jakarta dengan selamat. Sayang sekali Nyonya Gonata yang sedang menghitung hari ini tidak bisa ikut berarung jeram. Sebetulnya Bu Jay ini ingiiin sekali ikut arung jeram. Terpaksa kami tidak bisa mengabulkan permintaannya, sebab kalau ikut siapa nanti yang bertanggung jawab kalau tiba tiba bersalin di sungai, hayoo ?

Sungai cicatih adalah salah satu dari sekian banyak sungai di jawa barat yang tepatnya berada di wilayah sukabumi. Sungai ini , konon, perpaduan dari 7 buah sungai yang kemudian menyatu menjadi satu.
Salah satu sungai besar tempat muara air sungai cicatih adalah sungai cimandiri. Sungai cicatih kemudian terpilih menjadi tempat obyek wisata dan olahraga air, dikarenakan kontur bebatuan dan aliran arusnya memiliki tingkat tantangan yang tepat untuk arum jeram. Bila dibandingkan dengan sungai citarik yang memiliki tingkat tantangan skala 2 hingga 3, sungai cicatih ini skalanya berkisar 3 hingga 4. Sungai cicatih memiliki lebar sungai yang kira2 dua kali sungai citarik serta bebatuan yang sempurna membentuk jeram-jeram yang sangat menantang.

Tiba di meeting point

Dengan menggunakan mobil sewaan dan menempuh perjalanan 2 jam, akhirnya kami tiba di tempat meeting point.
Meeting point kami adalah di Kolam renang dan restoran CV Deri. Dari sana kami dijemput ke tempat rafting oleh para pemandu rafting.

Pada awalnya, saya pikir sungai cicatih ini bening. Ternyata saya salah duga, karena air sungai cicatih ini mengalir dari hulunya membawa endapan-endapan lumpur dan erosi tanah yang mengakibatkan warnanya menjadi coklat kopi susu. Jadi ini bukan olahraga white water rafting dong, tapi lebih cocok disebut mocchacino rafting ...

Setelah melalui penjelasan singkat dari pemandu kita Dede, akhirnya kita pun dibawa ke tempat start Riam2. Dede juga sempat menyampaikan bahwa hari ini debit air lumayan tinggi, sehingga diharapkan jeram-jeram yang terbentuk akan sangat menantang apalagi bagi kami yang masih newbie alias yang baru mencoba arung jeram. Sebetulnya saat berangkat dari Jakarta perasaan sih tenang-tenang aja, tetapi setelah kaki ini mulai menapaki perahu koq jantung rasanya dag-dig-dug-der ya..

Tercebur bagian ke-1

Pada awal perjalanan, kami digabungkan ke dalam 1 perahu dengan satu pemandu. Lalu di belakang kami, rescue team yang terdiri dari 5 orang turut menuntun kami. Jeram-jeram awal pun kami lalui. Sebagai informasi, rata-rata tiap jeram disini memiliki nama yang diambil dari pengalaman para rafter.

Di jeram jontor, kami difoto oleh para pemandu yang dari bibir sungai sudah siap dengan kameranya. Disilah terjadi insiden pertama, ketika Junrial terlalu excited sampai-sampai dia lupa kalau lagi berada di atas perahu. Karena posisinya terlalu berdiri dan tepat saat itu perahu sedang melalui ceruk jeram, walhasil tekanan air ke perahu sontak menghempaskan badan Jun ke pinggir perahu dan .."BYURRRR...." nyemplunglah Junrial dengan sukses ke sungai. Adegan ini diabadikan oleh team pemandu yang sama-sama dapat kita lihat di bagian foto. Terpaksa Jun harus merelakan sendal jepit KL nya 'berlayar' di derasnya jeram dan meninggalkan pemiliknya untuk selama-lamanya.

Bakwan dan kelapa muda segar

Di jeram zig-zag sempat terjadi insiden dimana pemandu kami hampir saja nyebur ke sungai. Sehingga para pemandu berinisiatif untuk memisah team menjadi dua perahu. Perahu pertama ada Dina, Lintang dan saya dengan Buce di komando pemandu. Perahu kedua ada Donny, Jun, dan Asap dengan Dede di komando pemandu.

Setelah melalui jeram zig zag, kami pun beristirahat ke pinggir sungai. Kami rileks sejenak sambil foto-foto, disuguhi gorengan bakwan dan kelapa muda segar. Kebetulan Asap belum sarapan pas tadi berangkat, jadi kami dengan ikhlash membiarkan dia menyantap habis bakwannya. Saya sendiri nggak mencoba bakwannya, saya pikir gorengan nanti bisa menghambat performance suara nanti pas teriak-teriak di perahu...hehe. Perjalanan pun akhirnya dilanjutkan kembali kira2 setelah 10 menit berisitirahat.

Beberapa nama jeram unik yang sempat saya catat adalah:
1.Jeram Jontor, mungkin karena kalau lewat jeram ini siap-siap aja bibir bisa jontor
2.Jeram Ngehe, jeram yang nyebelin, apalagi kalau nyemplung disini.
3.Jeram Serius (apa serieus?)
4.Jeram Warok
Namanya Jeram Warok, warok diambil dari nama batu besar di sungai cicatih ini. Di jeram ini, kami terpaksa berhenti dan naik ke bibir sungai. Berdasarkan pemantauan pemandu, jeram warok ini tidak dapat kami lalui saat itu, dikarenakan tingkat kederasan air di jeram warok melampaui ambang batas dan dikhawatirkan perahu tidak dapat dikendalikan saat melaluinya. Jeram warok adalah jeram terbesar di Cicatih dengan tingkat bahaya paling tinggi.
5.Jeram Marzuki.
Diambil dari nama Marzuki Usman, mantan menteri yang sempat mencicipi segarnya mocachino ala cicatih.
6.Jeram Panjang
Jeram terpanjang yang kami lalui selama rafting. Panjangnya melebihi 50 meter dan lumayan membuat jantung berdebar-debar.
7.Jeram Asmara.
Kabarnya pernah ada sepasang pengantin yang berbulan madu disini. Di jeram ini mereka tercebur ke sungai dan membawa oleh-oleh kesan yang tak terlupakan, dan tentu saja pengalaman mereka yang kemudian diabadikan sebagai nama jeram. Beruntungnya mereka..
8.Jeram Kuku patah
Dari namanya kita pasti sudah bisa menebak bahwa ada yang kukunya patah saat melalui jeram ini.
9.Jeram Kerinduan
Jeram yang membuat para rafter rindu kembali ke cicatih setelah melaluinya. Kenapa..saya nggak tahu persis, tapi ada satu kejadian yang membuat saya bener-bener rindu sama jeram ini. Apakah itu ? Silakan dibaca terus deh tulisan ini.
10.Jeram Zig zag
11. Jeram Under cut. Di dalam jeram ini ada batu besar dengan ceruk besar yang sangat berbahaya apabila kita tersangkut di dalamnya.
12. Gerbang Jeram. Jeram berada di antara dua buah batu besar.
13. Jeram Roller coaster. Jeram yang bentuknya curam, persis seperti naik roller coster

Tercebur bagian ke-2

Di sepertiga perjalanan, para pemandu sepakat untuk memindahkan Dina ke perahu 2. Dengan pertimbangan arus yang cukup deras, maka perahu satu dijadikan perahu yang akan menyusuri jeram terlebih dahulu dan melihat kondisi arus.

Setelah melalui beberapa jeram, saya dan Lintang diminta maju ke depan, alasannya lebih menantang kalo berada di depan. Dengan polos dan lugu kami pun menuruti dan duduk di front row seat. Basah sudah tidak kami risaukan, pegal di tangan dan pinggang semakin menambah lezatnya perjalanan rafting siang itu. Tak sadar kami terbuai, di depan sudah ada bahaya yang menunggu kami.

"Maju...1...2...3.. Maju !!!" Dayung kami membelah sungai cicatih. Pemandu di belakang pun tak kalah semangatnya memberikan komando "Mundur..1...2..3 Stop!!" atau "Ke belakang...!!! Saya mengikuti gerak harmonis para pemandu yang mendayung perahu, sambil sesekali mendengarkan pemandu memberikan informasi tentang nama-nama jeram yang akan kami lalui. Saat itu kami sudah di jeram 18. Pemandu memberitahukan bahwa jeram ini adalah jeram kerinduan, sehingga siapapun yang melewati jeram kerinduan ini niscaya akan rindu kembali lagi.
Saya sempat bertanya ke pemandu "Mas, ini sudah yang ke 18 ? Berarti tinggal sedikit lagi dong..wah baru mulai seru koq sudah mau selesai..."

Sesaat setelah saya selesai berbicara, perahu kami memasuki jeram. Buce, sang komandan berteriak, "Awas STANDING !!".. Kebetulan saya dan Lintang yang baru sekali ini rafting nggak ngerti apa itu standing..ternyata itu adalah peringatan bagi kami bahwa ada standing wave yang menerjang perahu kami. Seharusnya kami mengambil posisi badan agar perahu seimbang, tetapi karena kami tidak tahu ya kami tetap pada posisi saja.
Karena tekanan standing wave yang besar, bagian depan perahu terdorong dan terangkat seperti pesawat ulang alik mau tinggal landas. Hanya selisih sepersekian detik, tiba-tiba di depan muka saya sudah ada badan perahu dan hampir saja saya mencium badan perahu, KYAAA..perahu saya terbalik.

Semua yang ada di perahu terjungkal, terhempas dari perahu, tertindih perahu dan tergulung arus...sungguh naas..! Dengan tangan kiri yang memegang tali perahu dan tangan kanan memegang dayung saya pun juga dengan sukses tergulung arus. Saya nggak bisa liat apa-apa, serasa berenang di air kolak, jadi ya saya nikmati saja berliter-liter air itu. Saya nggak menyangka sebelumnya kalau saya akan terlempar dari perahu. Bahkan saya sempat melihat Lintang yang tertindih perahu. Dengan sisa tenaga, yang sebagiannya terkuras karena kaget, saya tetap berpegangan pada perahu. Saya berusaha untuk mencari pijakan batu di dasar sungai untuk dapat naik ke perahu kembali, tetapi sayangnya kaki saya nggak menyentuh apa-apa..Walaupun saya bisa berenang, tapi mental saya yang lagi nggak siap, jadi tak satupun gaya berenang yang saya pakai, hanya ada gaya panik saja yang keluar. Lucu bukan ? Tapi, ya memang begitu kenyataannya..

Survival

Tiba-tiba pikiran saya kosong, mungkin karena air terlalu banyak yang sudah masuk apakah itu tertelan, ke telinga, atau ke hidung dan membuat saya sempat merasakan NDE. Teman2 pernah dengar NDE ? NDE itu singkatan dari Near Death Experience, sebuah termin psikologi untuk menggambarkan situasi dimana seseorang kehilangan kesadaran secara sesaat. Alhamdulillah hanya sesaat, mungkin belum saatnya saya mempertanggung jawabkan amal perbuatan saya di dunia. Beberapa detik kemudian, kaki kiri saya terantuk batu dan membuat saya sadar. Ternyata tangan kiri saya masih memegang perahu dan tangan kanan saya masih menggenggam dayung.. ya betul.. dayungnya tidak terlepas walaupun saya sudah jungkir balik digulung arus. Saya melihat perahu yang dalam keadaan terbalik itu tiba-tiba kembali ke posisinya.
Awalnya saya pikir ada yang membalikkan, ternyata tidak ada. Mungkin arus yang cukup deras membalikkan perahu itu sendiri. Anyway, setidaknya saat itu saya jadi optimis untuk berenang dan mencoba naik ke atas perahu. Pelan-pelan..dengan tangan kanan, dayung saya lempar ke atas perahu dan sejauh jangkauan tangan saya mencoba meraih tali di perahu. Rupanya saya bukan orang yang panjang tangan..(atau tangan panjang..) tali pun luput diraih. Lalu saya coba hentakkan kaki kanan saya, dan dengan posisi kaki memeluk guling, mencoba untuk naik, lagi-lagi kaki saya tidak cukup panjang untuk naik ke perahu. Wah..wah..bagaimana ini. Saya pun tengok kiri kanan mencari kalau-kalau ada batu besar dan "berharap" agar bisa terdampar disana. Sejauh mata memandang, yang saya lihat ada 2 kepala menyembul tenggelam di kejauhan, "Sepertinya mereka juga sedang berjuang", begitu pikir saya.

Saat itulah saya mendengar di kejauhan "OSHI..OSHI..ITU OSHI!!" Ahhh, teman2 di perahu 2 selamat.. Alhamdulillah. Setidaknya mereka dapat melalui jeram dengan aman. Rupanya perahu mereka mendekat dan berusaha mencapai saya. Akhirnya, saya pun ditarik dari bibir perahu oleh pemandu perahu 2. Berdua dengan pemandu itu, saya mencoba sweeping yang masih terapung-apung lainnya. Saya sempat mengangkat pemandu yang namanya Budi ke perahu. Setelah itu, kapal merapat ke pinggir dan saya serta Budi mencoba untuk mengatur kembali nafas kami yang tersengal-sengal, campur baur antara panik, nyeri luka kena batu, dan mual karena air sungai yang sudah keburu masuk ke lambung saya.

Terasa kaki saya kram dan tangan masih gemetar. Kalimat pertama yang keluar dari mulut saya " Mantap, ini nggak akan saya lupakan.." Lalu saya menyempatkan ngobrol-ngobrol untuk mengendurkan urat syaraf yang tegang dengan Budi yang ternyata orang Banjarnegara. Ada pernyataan Budi yang lucu disela-sela obrolan kami. Dengan logat Banjarnegara yang medok, dia berkata "Saya juga baru sekali ini tenggelam, Mas. Kaget saya..." sambil mengelus-elus paha kirinya yang mulai berdarah darah karena menabrak batu besar. Saya pun memeriksa bagian tubuh saya, aman..tidak ada yang terluka, kecuali kuku jempol kaki kiri yang robek sepertiga bagian. Kirain semua pemandu udah pengalaman tenggelam di cicatih, ternyata ada satu yang masih On-the-job-training toh..

Berhasil..hore..hore!

Saya lihat di perahu 2, Donny masih sibuk dengan kameranya mengabadikan suasana sungai dan juga berfoto-foto dengan teman LT yang lolos dari standing wave. Lha wong namanya LaTahzan, jadi kudu selalu ceria dong.... Sambil garuk2 kepala saya melihat tingkah polah Junrial yang turun dari perahu dan guling2an di pinggir sungai. Ternyata saya baru sadar bahwa helm yang saya pakai sudah copot entah kapan dan dimana. Untung saja bukan kepala saya yang copot...

Dari kejauhan terlihat Lintang yang selamat dan berjalan ke arah kami. Terpaksa dia harus berjalan menyusuri pinggir sungai ke tempat perahu kami, melalui semak-semak belukar yang ditumbuhi pepohonan putri malu. Lintang pun harus rela duri-duri tajam putri malu menyayat-nyayat kakinya. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, sudah hampir tenggelam, eh mesti lewat semak berduri pulaa..

Akhirnya, kami pun selesai melewati seluruh jeram. Puas, senang, gembira, dan ceria itulah yang terpancar dari semua wajah kami para LaTahzaner...Beribu kesan yang diperlihatkan oleh kami tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata saat itu. Perjalanan yang singkat di arung jeram ini telah menorehkan berbagai macam hal, mulai kebersamaan, tantangan, cobaan, dan kesuksesan. Adrenalin yang terpacu saat melewati jeram demi jeram, pucat pasi di wajah kami, pegal di sekujur tubuh, semuanya menggambarkan betapa semangat kami dalam mewarnai kegiatan arung jeram kali ini.

Makannya kapan?

Setelah kembali ke meeting point, bermain air di kolam renang sebentar dan mandi, akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu..MAKANNNNN..!! Sudah kenyang saya minum air sungai, masak harus lama menunggu acara makan pula..

Kami makan di salah satu restoran asri yang terletak di jalan raya Cibadak, namanya Pondok Bambu Kuring. Dasar yang namanya pada kelaparan, paket nasi 2 ceting, gurame goreng, sayur asem, karedok, kangkung hotplate, tempe goreng dan sambel cobek langsung ludes licin tandas .. Saya kebagian meng-otopsi ikan gurame dan Donny bagian sweeping kangkungnya. Sambil mengelus-elus perut yang kenyang, kami pun bergantian melihat-lihat foto hasil jepretan pemandu riam jeram. Fotonya bagus-bagus dan momennya pas... terutama saat Junrial yang sedang tercebur.

Sore semakin temaram, hujan gerimis di luar, dan sayup-sayup suara hembusan angin semakin membuat suasana syahdu serta mata kami berkejap-kejap,..mengantuk. Lalu kami pun memutuskan untuk segera beranjak dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta...

Makan lagiiii

Sebelum pulang ke rumah masing2, kami menyempatkan untuk mampir ke Wisma Tuna Ganda di Palsigunung...(apa Tugas Anda ya Don? hehe). Sekaligus membantu survey teman2 panitia baksos.

Gak puas makan-makan di Cibadak, setelah kami mampir di WTG, kami lalu didaulat oleh Asap untuk mampir ke Restoran KIM SUN. Lokasinya di Perumahan Bukit Cengkeh II , seberang kompleks Brimob, Cimanggis. Restoran KIM SUN ini terletak di rumahnya Asap, wah ... ini pucuk dicinta ulam pun tiba.. APA KATA DUNIA kalo kami menolak tawaran ditraktir makan ? Jadilah kami mencicipi makanan-makanan khas Palembang, dan tentu saja....free of charge.. Alhamdulillah perjalanan hari ini menyengkan sekali...Memang di balik kesulitan akan ada kemudahan ..hehe..

Epilog

"HALO..bisa bicara dengan Pak Orsi ?".. Senin pagi saya dikejutkan oleh telepon di hape dari phonebook yang bertuliskan Rafting Riam Jeram..
"Ya, dengan Mas Adul ya.."(saya sendiri lupa apakah namanya Adul, Abdul, Abul, apa Arul)..jawab saya
"Iya, pak Orsi..kemarin bagaimana?"
"Seru pak, wah mantap raftingnya"
"Kemarin debit air tinggi ya Pak?" tanyanya kembali
"Iya, betul..mungkin debitnya sekitar 75 an Mas.."(dengan sok tau saya menjawab,.. lha wong debit airnya aja saya nggak tau gimana cara ngukurnya..saya kan cuma denger dari Dede bahwa ya debit pas rafting itu segitu..)
"Wah, mohon maaf ini Pak seharusnya kalau sudah 75 kita sih menyarankan rombongan tidak turun, kecuali yang profesional"
"Wah, pantes mas perahu saya kemarin kebalik..tapi gak papa koq, seru juga" saya berapologi. Berarti apa kita sudah dianggap professional ya
"Baik, Pak kalau begitu terima kasih telah bersama Riam Jeram dan kami menunggu Bapak berarung jeram bersama kami kembali dengan membawa rombongan yang lebih banyak lagi" Mas Adul berpromosi.
"Baik, Mas..sukses selalu" pembicaraan pun diakhiri..saya lipat Motorola V3 saya.

Saya lalu berpikir, Wah kalau seandainya kemarin benar2 gak jadi turun arung jeram, rugi sekali kami datang jauh-jauh gak dapat apa-apa pengalaman kemarin itu benar2 berharga dan unforgettable..

Kami akan kembali mengunjungimu Cicatih..
Kami akan bawa LaTahzaner sebanyak-banyak untuk dapat mencicipi aroma segarnya mengarungi jerammu..
Insya Allah.. Well be back..

Sentra mulia,
April 10, 2007