Wednesday, March 22, 2017

Proses Pembuatan Visa ke Jepang

Bulan depan, saya dan istri merencanakan untuk liburan ke Jepang. Awalnya hanya iseng-iseng datang ke Garuda Travel Fair (GATF) di tanggal 9 Oktober 2016 di JCC Senayan. Sebetulnya kedatangan ke GATF ini karena didorong oleh rasa penasaran akibat sering baca di internet mengenai penulis-penulis yang berhasil mendapatkan tiket murah di acara Travel Fair seperti GATF.

Singkat cerita, saya berhasil memperoleh tiket di counter Obaja tour yang menurut saya cocok dengan budget. Untuk tiket trip Jakarta-Denpasar-Osaka dan Tokyo-Denpasar-Jakarta, saya mendapatkan tiket seharga Rp 11,5 juta untuk berdua.

Empat bulan kemudian, urusan trip ke Jepang sejenak terlupakan dengan hal lain seputar pekerjaan dan kehidupan (tsaaah...!). Mendekati sebulan dari tanggal keberangkatan, saya diingatkan oleh istri untuk urus visa. Oh iya, sebelumnya saya urus penggantian paspor terlebih dahulu karena yang lama sudah habis di bulan Juni 2017.

.: Syarat Dokumen :.

Tahap pertama adalah browsing di internet dan melihat website informasi Kedutaan Jepang untuk kelengkapan dokumen Visa. Ada beberapa jenis Visa yang dapat diajukan. Karena keperluan saya adalah untuk wisata pribadi, jadi saya memilih yang "Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri".

Sebelum saya membahas mengenai dokumen persyaratan, ada beberapa hal yang diketahui oleh para calon wisatawan terkait pengurusan Visa ini, sebagai berikut:

  1. Permohonan visa hanya akan diproses di Konsulat yang sesuai dengan wilayah yurisdiksi masing-masing. (klik di sini untuk melihat wilayah yurisdiksi). Pastikan teman-teman mengetahui kantor Kedutaan yang harus dikunjungi sesuai dengan lokasi KTP asal. Contoh: Jika KTP Palembang, maka Visa diproses di Jakarta, sedangkan KTP Riau, diprosesnya di Medan.
  2. Pengurusan bisa dilakukan melalui agen wisata ataupun sendiri. Jika diurus sendiri, siapkan 2 hari untuk pengajuan dan pengambilan. Jeda waktunya minimal 3 hari setelah diajukan, Visa sudah bisa diambil.
  3. Siapkan dokumen selengkap-lengkapnya. Jika ada dokumen yang kurang, maka proses pengajuan Visa bisa ditunda. Sayang kan, kalau harus nambah waktu lagi untuk balik ke kantor Kedutaan,

Dokumen yang diperlukan sebagai berikut, sebagaimana informasi di website Kedutaan per Maret 2017:

  1. Paspor.
  2. Formulir permohonan visa dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
  3. Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)..kertas fotocopy jangan dipotong..!! 
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
  6. Jadwal Perjalanan (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
Untuk poin ke-8, pemohon bisa melampirkan surat keterangan pekerjaan sebagai pengganti bukti keuangan apabila memenuhi kriteria berikut:

  1. Karyawan perusahaan yang terdaftar di Bursa Saham Indonesia.
  2. Karyawan BUMN.
  3. Karyawan dari perusahaan yang menjalin kerja sama dengan perusahaan di Jepang.
  4. Karyawan dari perusahaan joint venture Indonesia - Jepang, atau anak perusahaan Jepang, atau cabang dari perusahaan Jepang.
  5. Karyawan dari instansi pemerintah.
  6. Pemohon adalah budayawan/ seniman yang sudah go-international; atlit yang sudah diakui ; dekan, profesor, asisten profesor dari universitas; pimpinan museum, atau lembaga penelitian pemerintah maupun swasta.

          Setelah dokumen tersebut lengkap, maka saya pun memutuskan untuk mengurus sendiri Visa tersebut. Dengan bekal browsing di internet, sepertinya proses pengajuannya cukup mudah. Cukup siapkan mental dan fisik untuk ikut antri dan uang sebesar Rp 330.000 per orang. 

          Biaya ini dberikan pada saat Visa diambil dan bukan saat mengajukan di awal. Jadi, bayar setelah selesai. Oh iya, biaya ini karena saya menggunakan paspor biasa dan bukan e-passport. Karena sedari awal, saya memang memutuskan untuk menggunakan paspor biasa.

          .: Hari-H :.

          Pada hari-H, saya sudah minta ijin ke Bos untuk tidak masuk datang agak siang. Saya berangkat menggunakan mobil dan parkir di Plaza Indonesia basement 2. Disana ternyata cukup ramai karena banyak yang parkir kendaraan juga di pagi hari itu. Dengan menggunakan akses lift melalui hotel Hyatt saya pun menuju ke Kedutaan Jepang.

          Tidak disangka, walaupun jam masih menunjukkan jam 7.30, ternyata antrian sudah mengular di area parkiran motor Kedutaan. Saya perkirakan, saya adalah orang ke-60 an yang mengantri.

          Menurut informasi, loket masuk gedung akan dibuka pada jam 8.00. Ternyata, antrian baru mulai masuk jam 8.30. Entah kenapa pagi itu matahari sepertinya lagi happy sehingga saya sampai kepanasan antri di bawah sinar terik.

          Pas di depan gerbang, istri saya baru melihat ada tulisan bahwa KTP agar difotokopi ukuran A4 alias tidak dipotong. Mungkin untuk agar lebih praktis saat di-scan oleh petugas. Akhirnya istri pun inisiatif untuk cari fotocopy-an sementara saya tetap mengantri. 

          Antrian pun bergerak maju sementara istri masih mencari tempat fotocopy KTP.  Akhirnya saya memutuskan untuk tetap masuk ke dalam tanpa membawa dokumen dengan pertimbangan ambil nomer dulu, kalau nanti istri sudah kembali maka saya bisa ambil dokumennya.

          Masuk ke loket pertama,  kita diminta titip KTP dan diberikan nomer. Ternyata bukan nomer antrian.. Karena setelah dari sana,  saya diminta masuk ke ruangan nomer 2 yang isinya adalah body scanner dan keluar dari ruangan ini baru kita diperbolehkan untuk masuk gedung.

          Di dalam gedung,  kita masuk ke ruangan antrian. Saya melihat sudah ada sekitar 100 orang di dalam.  Kalau sudah disini,  segeralah cari Mesin Nomer Antrian Kode A.  Jangan sampai salah ya.  Karena mesin A untuk antrian yang mengajukan Visa. Setelah ith barulah cari tempat duduk. Jangan duduk terlebih dahulu sebelum punya nomer antrian A.

          Saya dapat antrian nomer 73 dan kebetulan bapak di sebelah saya lagi nunggu bosnya yang belum datang.  Saya usul agar tukeran nomer karena nomer dia 57 dan apabila tidak muncul maka sayang nomernya hangus.  Dia pun bersedia.. Hehe lumayan bisa menghemat sampai setengah jam.

          (( to be continued )) 

          Friday, June 06, 2008

          Melbourne address

          Apa sih ini?
          Hm, bisa jadi ga penting..awalnya juga lagi iseng2 mindahin alamat banking dll karena mau pulang ke indo sebulan lagi. Ya sudah, sambil mengabadikan alamat2 tersebut, saya mau mencatat beberapa hal berkaitan dengan tempat tinggal saya di Melbourne.

          Alamat2 di bawah ini adalah perjalanan kehidupan nomaden diriku selama mondok dan nyantri di Melbourne.

          1. 99 Grandview Avenue Pascoe Vale South 3044 VICTORIA AU
          -> numpang sama keluarga Mas Agus-Mbak Shinta-Tristan, really homy
          -> to get there:Jalur Tram 55 sampe ujung stop 40. jalan 3 menit.

          Rumah ini adalah kediamannya Mbak Shinta yang nyantri di International Business Melb Uni. Beliau berkenan meminjamkan salah satu kamar di rumahnya untuk saya tempati. Saya tinggal 2 minggu dari 13 Aug-27 Aug 2007 disini.

          Rumahnya nyaman sekali, ada 3 kamar tidur, ruang makan, backyard, carport, ruang tamu..nyaman deh untuk keluarga.
          Wah andai saya bersama keluarga (red-ngayal*) maka mungkin saya juga nyewa rumah yang sebesar ini.

          2. 146 Queensberry Street Carlton 3053 VICTORIA AU
          -> nyewa 10 bulan sejak 27 Aug 2007 sampai 26 Jun 2008, sama Om Sim Beow Lim, model kos-kosan
          -> to get there: naik apa aja arah Melb Uni dari City, turun stop 4. jalan 30 detik
          Rumahnya ga kayak kos2an. Malah mirip kantor, karena kotak dan kaku. Tapi di dalamnya tersembunyi dinamika dan kehidupan sekelompok anak manusia yang rata2 sedang nyantri juga di melbourne.
          Kamar saya awal di lantai 3, lalu karena mau summer dan diatas pastinya panas sekali (suhunya sampai 40 degrees di siang hari), dan tetangga saya ribut banged (maklum ABG!), maka saya memutuskan pindah ke lantai 2. Ups, ternyata pindah ke lantai 2 juga masih dilanda keributan..karena saya persis di bawah kamar si ABG. Karena lantainya kayu jadi saya bisa dengar suaranya ke kamar saya. Sib nasssib!!

          3. (1/6 De Carle Street 3056 VICTORIA AU)
          -> temporary mailing address sebelum pindah ke alamat di bawah
          -> to get there:Jalur tram 19 stop 25, jalan arah stewart street 3 menit.

          Disini tinggal trio cewe nan baik hati. Ini tempat saya menumpang alamat untuk mail selama saya belum dapat tempat baru. Status numpang alamat 1 bulan selama saya mudik ke Indonesia.

          Saya sering numpang makan disini, karena yang namanya lapar kadang ga bisa ditahan, dan karena trio ini rajin masak, jadi saya suka menodong sambil memelas agar saya dapat mencicipi butir2 nasi dan seonggok lauk di dapur mereka. Tapi hal ini sering saya lakukan, ..maklum lah namanya juga mahasiswa berkantong cekak!

          4. 15 Davies Street 3056 VICTORIA AU
          -> tempat Bro Edwin, feels like home lagi
          -> to get there:Jalur tram 19 stop 27, jalan arah davies street 3 menit atau tram 8 stop 131 jalan arah de carle street 3 menit.

          Bentuknya two storey house dengan 3 kamar di atas dan satu ruang tamu disulap jadi kamar.
          Rumahnya nyaman banged, ada central heaternya, dan bath tub. Saya sebetulnya bisa mandi sering2 di bath tub, tapi saya pikir2 kan pemborosan air jadi saya pikir lebih baik saya mandi pakai shower biasa saja lah

          Awalnya cuma ngobrol2 aja sama Edwin nanyain ada tempat kosong apa engga karena kos yang sekarang sudah mau jatuh tempo. Sampai akhirnya Edwin menawarkan kalau saya mau pindah dan mengisi salah satu kamar yang akan kosong bulan Juli akhir. Saya okay dan start agustus 2008 saya akan jadi penghuni tetap di rumah ini. Setidaknya sampai Januari saat kontraknya habis.

          Mungkin kalau nanti kuliah saya sudah selesai dan saya kembali lagi ke Jakarta, maka tempat2 di atas akan menjadi kenangan dan kisah tersendiri bagi perjalanan hidup saya nomaden di negeri orang.

          Update: 18-Sept-2015
          Serasa melalui time machine ketika pagi ini saya membaca page ini, membawa memori saya kembali ke 8 tahun lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Melbourne.

          Sungguh sebuah perjalanan hidup melalui waktu yang memiliki kenangan.

          Wednesday, August 08, 2007

          Melbourne...

          Setelah sempat tertunda setahun, akhirnya bisa berangkat juga ke Melbourne.
          Perjalanan kali ini bukan untuk jalan2, tetapi merupakan sebuah milestone dalam kehidupanku.
          Semoga perjalanan ini lancar dan bermanfaat.

          Tuesday, April 10, 2007

          Rafting di Cicatih - 07 April 2007


          Memaknai Kehidupan melalui Arung Jeram

          "..Sungguh, betapa kegiatan mengarungi jeram ini dapat mencerminkan kehidupan yang sebenarnya.
          Ada kalanya suatu saat hidup kita mengalir di arus tenang dan melenakan. Atau ada saatnya melampaui ceruk-ceruk kecil di antara bebatuan ujian yang dapat dilalui dengan mudah, atau dapat pula kita tergulung arus, lalu terbang tinggi sekali, walaupun akhirnya kembali jatuh, terhempas ke bumi, nyeri,.. seakan tanpa nyawa.."

          Prolog

          Bermula dari dua buah email Saudara LaTahzan yang masuk ke mailbox email saya, yang satu dari Dina dan yang satu lagi dari Junrial, LaTahzaner yang sedang menempuh karir di negeri jiran, Malaysia. Keduanya secara terpisah mengusulkan adanya kegiatan untuk mengisi long-weekend pekan ini.

          Setelah melalui negosiasi via email, akhirnya disepakatilah bahwa kita akan berarung jeram. Pertama, karena kegiatan ini berhubungan dengan air, dan personil LT belum pernah mengadakan kegiatan rame-rame yang berurusan dengan olahraga air. Kedua, kondisi cuaca yang sudah mulai penghabisan musim hujan tetapi curah hujan masih lumayan tinggi, pas untuk arung jeram. Dan alasan ketiga yang lebih bersifat pribadi, insya Allah membayar hutang saya kepada Junrial yang tahun lalu mengajak saya ke pulau Seribu dan Arung Jeram, tapi keduanya saya tolak karena saya khawatir dengan cuaca.

          Keberangkatan

          Tibalah hari H, tanggal 7 April, yang telah disepakati untuk melakukan rafting ke Sungai Cicatih. Berangkat dari starting point Sentra Mulia, enam orang dari kami yaitu Dina, Lintang, Junrial, Donny, Asap, dan saya sendiri akan memulai perjalanan ke Sukabumi. Pada awalnya sempat ada miskomunikasi dengan Asap yang ternyata 1 jam menunggu dengan setia di halte, sementara kita semua ngumpul di belakang sentra, maaf ya Sap lupa ngasih tahu .... Secara mengejutkan, ketika pagi itu kami sarapan terlebih dahulu, kami bertemu dengan pasangan-yang-semakin-mesra, Gonata dan Jayanti. Sambil nyantap bubur dan teh botol, kami juga sekaligus meminta doa restu dari pasangan LT ini agar kami berangkat dan kembali pulang ke jakarta dengan selamat. Sayang sekali Nyonya Gonata yang sedang menghitung hari ini tidak bisa ikut berarung jeram. Sebetulnya Bu Jay ini ingiiin sekali ikut arung jeram. Terpaksa kami tidak bisa mengabulkan permintaannya, sebab kalau ikut siapa nanti yang bertanggung jawab kalau tiba tiba bersalin di sungai, hayoo ?

          Sungai cicatih adalah salah satu dari sekian banyak sungai di jawa barat yang tepatnya berada di wilayah sukabumi. Sungai ini , konon, perpaduan dari 7 buah sungai yang kemudian menyatu menjadi satu.
          Salah satu sungai besar tempat muara air sungai cicatih adalah sungai cimandiri. Sungai cicatih kemudian terpilih menjadi tempat obyek wisata dan olahraga air, dikarenakan kontur bebatuan dan aliran arusnya memiliki tingkat tantangan yang tepat untuk arum jeram. Bila dibandingkan dengan sungai citarik yang memiliki tingkat tantangan skala 2 hingga 3, sungai cicatih ini skalanya berkisar 3 hingga 4. Sungai cicatih memiliki lebar sungai yang kira2 dua kali sungai citarik serta bebatuan yang sempurna membentuk jeram-jeram yang sangat menantang.

          Tiba di meeting point

          Dengan menggunakan mobil sewaan dan menempuh perjalanan 2 jam, akhirnya kami tiba di tempat meeting point.
          Meeting point kami adalah di Kolam renang dan restoran CV Deri. Dari sana kami dijemput ke tempat rafting oleh para pemandu rafting.

          Pada awalnya, saya pikir sungai cicatih ini bening. Ternyata saya salah duga, karena air sungai cicatih ini mengalir dari hulunya membawa endapan-endapan lumpur dan erosi tanah yang mengakibatkan warnanya menjadi coklat kopi susu. Jadi ini bukan olahraga white water rafting dong, tapi lebih cocok disebut mocchacino rafting ...

          Setelah melalui penjelasan singkat dari pemandu kita Dede, akhirnya kita pun dibawa ke tempat start Riam2. Dede juga sempat menyampaikan bahwa hari ini debit air lumayan tinggi, sehingga diharapkan jeram-jeram yang terbentuk akan sangat menantang apalagi bagi kami yang masih newbie alias yang baru mencoba arung jeram. Sebetulnya saat berangkat dari Jakarta perasaan sih tenang-tenang aja, tetapi setelah kaki ini mulai menapaki perahu koq jantung rasanya dag-dig-dug-der ya..

          Tercebur bagian ke-1

          Pada awal perjalanan, kami digabungkan ke dalam 1 perahu dengan satu pemandu. Lalu di belakang kami, rescue team yang terdiri dari 5 orang turut menuntun kami. Jeram-jeram awal pun kami lalui. Sebagai informasi, rata-rata tiap jeram disini memiliki nama yang diambil dari pengalaman para rafter.

          Di jeram jontor, kami difoto oleh para pemandu yang dari bibir sungai sudah siap dengan kameranya. Disilah terjadi insiden pertama, ketika Junrial terlalu excited sampai-sampai dia lupa kalau lagi berada di atas perahu. Karena posisinya terlalu berdiri dan tepat saat itu perahu sedang melalui ceruk jeram, walhasil tekanan air ke perahu sontak menghempaskan badan Jun ke pinggir perahu dan .."BYURRRR...." nyemplunglah Junrial dengan sukses ke sungai. Adegan ini diabadikan oleh team pemandu yang sama-sama dapat kita lihat di bagian foto. Terpaksa Jun harus merelakan sendal jepit KL nya 'berlayar' di derasnya jeram dan meninggalkan pemiliknya untuk selama-lamanya.

          Bakwan dan kelapa muda segar

          Di jeram zig-zag sempat terjadi insiden dimana pemandu kami hampir saja nyebur ke sungai. Sehingga para pemandu berinisiatif untuk memisah team menjadi dua perahu. Perahu pertama ada Dina, Lintang dan saya dengan Buce di komando pemandu. Perahu kedua ada Donny, Jun, dan Asap dengan Dede di komando pemandu.

          Setelah melalui jeram zig zag, kami pun beristirahat ke pinggir sungai. Kami rileks sejenak sambil foto-foto, disuguhi gorengan bakwan dan kelapa muda segar. Kebetulan Asap belum sarapan pas tadi berangkat, jadi kami dengan ikhlash membiarkan dia menyantap habis bakwannya. Saya sendiri nggak mencoba bakwannya, saya pikir gorengan nanti bisa menghambat performance suara nanti pas teriak-teriak di perahu...hehe. Perjalanan pun akhirnya dilanjutkan kembali kira2 setelah 10 menit berisitirahat.

          Beberapa nama jeram unik yang sempat saya catat adalah:
          1.Jeram Jontor, mungkin karena kalau lewat jeram ini siap-siap aja bibir bisa jontor
          2.Jeram Ngehe, jeram yang nyebelin, apalagi kalau nyemplung disini.
          3.Jeram Serius (apa serieus?)
          4.Jeram Warok
          Namanya Jeram Warok, warok diambil dari nama batu besar di sungai cicatih ini. Di jeram ini, kami terpaksa berhenti dan naik ke bibir sungai. Berdasarkan pemantauan pemandu, jeram warok ini tidak dapat kami lalui saat itu, dikarenakan tingkat kederasan air di jeram warok melampaui ambang batas dan dikhawatirkan perahu tidak dapat dikendalikan saat melaluinya. Jeram warok adalah jeram terbesar di Cicatih dengan tingkat bahaya paling tinggi.
          5.Jeram Marzuki.
          Diambil dari nama Marzuki Usman, mantan menteri yang sempat mencicipi segarnya mocachino ala cicatih.
          6.Jeram Panjang
          Jeram terpanjang yang kami lalui selama rafting. Panjangnya melebihi 50 meter dan lumayan membuat jantung berdebar-debar.
          7.Jeram Asmara.
          Kabarnya pernah ada sepasang pengantin yang berbulan madu disini. Di jeram ini mereka tercebur ke sungai dan membawa oleh-oleh kesan yang tak terlupakan, dan tentu saja pengalaman mereka yang kemudian diabadikan sebagai nama jeram. Beruntungnya mereka..
          8.Jeram Kuku patah
          Dari namanya kita pasti sudah bisa menebak bahwa ada yang kukunya patah saat melalui jeram ini.
          9.Jeram Kerinduan
          Jeram yang membuat para rafter rindu kembali ke cicatih setelah melaluinya. Kenapa..saya nggak tahu persis, tapi ada satu kejadian yang membuat saya bener-bener rindu sama jeram ini. Apakah itu ? Silakan dibaca terus deh tulisan ini.
          10.Jeram Zig zag
          11. Jeram Under cut. Di dalam jeram ini ada batu besar dengan ceruk besar yang sangat berbahaya apabila kita tersangkut di dalamnya.
          12. Gerbang Jeram. Jeram berada di antara dua buah batu besar.
          13. Jeram Roller coaster. Jeram yang bentuknya curam, persis seperti naik roller coster

          Tercebur bagian ke-2

          Di sepertiga perjalanan, para pemandu sepakat untuk memindahkan Dina ke perahu 2. Dengan pertimbangan arus yang cukup deras, maka perahu satu dijadikan perahu yang akan menyusuri jeram terlebih dahulu dan melihat kondisi arus.

          Setelah melalui beberapa jeram, saya dan Lintang diminta maju ke depan, alasannya lebih menantang kalo berada di depan. Dengan polos dan lugu kami pun menuruti dan duduk di front row seat. Basah sudah tidak kami risaukan, pegal di tangan dan pinggang semakin menambah lezatnya perjalanan rafting siang itu. Tak sadar kami terbuai, di depan sudah ada bahaya yang menunggu kami.

          "Maju...1...2...3.. Maju !!!" Dayung kami membelah sungai cicatih. Pemandu di belakang pun tak kalah semangatnya memberikan komando "Mundur..1...2..3 Stop!!" atau "Ke belakang...!!! Saya mengikuti gerak harmonis para pemandu yang mendayung perahu, sambil sesekali mendengarkan pemandu memberikan informasi tentang nama-nama jeram yang akan kami lalui. Saat itu kami sudah di jeram 18. Pemandu memberitahukan bahwa jeram ini adalah jeram kerinduan, sehingga siapapun yang melewati jeram kerinduan ini niscaya akan rindu kembali lagi.
          Saya sempat bertanya ke pemandu "Mas, ini sudah yang ke 18 ? Berarti tinggal sedikit lagi dong..wah baru mulai seru koq sudah mau selesai..."

          Sesaat setelah saya selesai berbicara, perahu kami memasuki jeram. Buce, sang komandan berteriak, "Awas STANDING !!".. Kebetulan saya dan Lintang yang baru sekali ini rafting nggak ngerti apa itu standing..ternyata itu adalah peringatan bagi kami bahwa ada standing wave yang menerjang perahu kami. Seharusnya kami mengambil posisi badan agar perahu seimbang, tetapi karena kami tidak tahu ya kami tetap pada posisi saja.
          Karena tekanan standing wave yang besar, bagian depan perahu terdorong dan terangkat seperti pesawat ulang alik mau tinggal landas. Hanya selisih sepersekian detik, tiba-tiba di depan muka saya sudah ada badan perahu dan hampir saja saya mencium badan perahu, KYAAA..perahu saya terbalik.

          Semua yang ada di perahu terjungkal, terhempas dari perahu, tertindih perahu dan tergulung arus...sungguh naas..! Dengan tangan kiri yang memegang tali perahu dan tangan kanan memegang dayung saya pun juga dengan sukses tergulung arus. Saya nggak bisa liat apa-apa, serasa berenang di air kolak, jadi ya saya nikmati saja berliter-liter air itu. Saya nggak menyangka sebelumnya kalau saya akan terlempar dari perahu. Bahkan saya sempat melihat Lintang yang tertindih perahu. Dengan sisa tenaga, yang sebagiannya terkuras karena kaget, saya tetap berpegangan pada perahu. Saya berusaha untuk mencari pijakan batu di dasar sungai untuk dapat naik ke perahu kembali, tetapi sayangnya kaki saya nggak menyentuh apa-apa..Walaupun saya bisa berenang, tapi mental saya yang lagi nggak siap, jadi tak satupun gaya berenang yang saya pakai, hanya ada gaya panik saja yang keluar. Lucu bukan ? Tapi, ya memang begitu kenyataannya..

          Survival

          Tiba-tiba pikiran saya kosong, mungkin karena air terlalu banyak yang sudah masuk apakah itu tertelan, ke telinga, atau ke hidung dan membuat saya sempat merasakan NDE. Teman2 pernah dengar NDE ? NDE itu singkatan dari Near Death Experience, sebuah termin psikologi untuk menggambarkan situasi dimana seseorang kehilangan kesadaran secara sesaat. Alhamdulillah hanya sesaat, mungkin belum saatnya saya mempertanggung jawabkan amal perbuatan saya di dunia. Beberapa detik kemudian, kaki kiri saya terantuk batu dan membuat saya sadar. Ternyata tangan kiri saya masih memegang perahu dan tangan kanan saya masih menggenggam dayung.. ya betul.. dayungnya tidak terlepas walaupun saya sudah jungkir balik digulung arus. Saya melihat perahu yang dalam keadaan terbalik itu tiba-tiba kembali ke posisinya.
          Awalnya saya pikir ada yang membalikkan, ternyata tidak ada. Mungkin arus yang cukup deras membalikkan perahu itu sendiri. Anyway, setidaknya saat itu saya jadi optimis untuk berenang dan mencoba naik ke atas perahu. Pelan-pelan..dengan tangan kanan, dayung saya lempar ke atas perahu dan sejauh jangkauan tangan saya mencoba meraih tali di perahu. Rupanya saya bukan orang yang panjang tangan..(atau tangan panjang..) tali pun luput diraih. Lalu saya coba hentakkan kaki kanan saya, dan dengan posisi kaki memeluk guling, mencoba untuk naik, lagi-lagi kaki saya tidak cukup panjang untuk naik ke perahu. Wah..wah..bagaimana ini. Saya pun tengok kiri kanan mencari kalau-kalau ada batu besar dan "berharap" agar bisa terdampar disana. Sejauh mata memandang, yang saya lihat ada 2 kepala menyembul tenggelam di kejauhan, "Sepertinya mereka juga sedang berjuang", begitu pikir saya.

          Saat itulah saya mendengar di kejauhan "OSHI..OSHI..ITU OSHI!!" Ahhh, teman2 di perahu 2 selamat.. Alhamdulillah. Setidaknya mereka dapat melalui jeram dengan aman. Rupanya perahu mereka mendekat dan berusaha mencapai saya. Akhirnya, saya pun ditarik dari bibir perahu oleh pemandu perahu 2. Berdua dengan pemandu itu, saya mencoba sweeping yang masih terapung-apung lainnya. Saya sempat mengangkat pemandu yang namanya Budi ke perahu. Setelah itu, kapal merapat ke pinggir dan saya serta Budi mencoba untuk mengatur kembali nafas kami yang tersengal-sengal, campur baur antara panik, nyeri luka kena batu, dan mual karena air sungai yang sudah keburu masuk ke lambung saya.

          Terasa kaki saya kram dan tangan masih gemetar. Kalimat pertama yang keluar dari mulut saya " Mantap, ini nggak akan saya lupakan.." Lalu saya menyempatkan ngobrol-ngobrol untuk mengendurkan urat syaraf yang tegang dengan Budi yang ternyata orang Banjarnegara. Ada pernyataan Budi yang lucu disela-sela obrolan kami. Dengan logat Banjarnegara yang medok, dia berkata "Saya juga baru sekali ini tenggelam, Mas. Kaget saya..." sambil mengelus-elus paha kirinya yang mulai berdarah darah karena menabrak batu besar. Saya pun memeriksa bagian tubuh saya, aman..tidak ada yang terluka, kecuali kuku jempol kaki kiri yang robek sepertiga bagian. Kirain semua pemandu udah pengalaman tenggelam di cicatih, ternyata ada satu yang masih On-the-job-training toh..

          Berhasil..hore..hore!

          Saya lihat di perahu 2, Donny masih sibuk dengan kameranya mengabadikan suasana sungai dan juga berfoto-foto dengan teman LT yang lolos dari standing wave. Lha wong namanya LaTahzan, jadi kudu selalu ceria dong.... Sambil garuk2 kepala saya melihat tingkah polah Junrial yang turun dari perahu dan guling2an di pinggir sungai. Ternyata saya baru sadar bahwa helm yang saya pakai sudah copot entah kapan dan dimana. Untung saja bukan kepala saya yang copot...

          Dari kejauhan terlihat Lintang yang selamat dan berjalan ke arah kami. Terpaksa dia harus berjalan menyusuri pinggir sungai ke tempat perahu kami, melalui semak-semak belukar yang ditumbuhi pepohonan putri malu. Lintang pun harus rela duri-duri tajam putri malu menyayat-nyayat kakinya. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, sudah hampir tenggelam, eh mesti lewat semak berduri pulaa..

          Akhirnya, kami pun selesai melewati seluruh jeram. Puas, senang, gembira, dan ceria itulah yang terpancar dari semua wajah kami para LaTahzaner...Beribu kesan yang diperlihatkan oleh kami tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata saat itu. Perjalanan yang singkat di arung jeram ini telah menorehkan berbagai macam hal, mulai kebersamaan, tantangan, cobaan, dan kesuksesan. Adrenalin yang terpacu saat melewati jeram demi jeram, pucat pasi di wajah kami, pegal di sekujur tubuh, semuanya menggambarkan betapa semangat kami dalam mewarnai kegiatan arung jeram kali ini.

          Makannya kapan?

          Setelah kembali ke meeting point, bermain air di kolam renang sebentar dan mandi, akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu..MAKANNNNN..!! Sudah kenyang saya minum air sungai, masak harus lama menunggu acara makan pula..

          Kami makan di salah satu restoran asri yang terletak di jalan raya Cibadak, namanya Pondok Bambu Kuring. Dasar yang namanya pada kelaparan, paket nasi 2 ceting, gurame goreng, sayur asem, karedok, kangkung hotplate, tempe goreng dan sambel cobek langsung ludes licin tandas .. Saya kebagian meng-otopsi ikan gurame dan Donny bagian sweeping kangkungnya. Sambil mengelus-elus perut yang kenyang, kami pun bergantian melihat-lihat foto hasil jepretan pemandu riam jeram. Fotonya bagus-bagus dan momennya pas... terutama saat Junrial yang sedang tercebur.

          Sore semakin temaram, hujan gerimis di luar, dan sayup-sayup suara hembusan angin semakin membuat suasana syahdu serta mata kami berkejap-kejap,..mengantuk. Lalu kami pun memutuskan untuk segera beranjak dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta...

          Makan lagiiii

          Sebelum pulang ke rumah masing2, kami menyempatkan untuk mampir ke Wisma Tuna Ganda di Palsigunung...(apa Tugas Anda ya Don? hehe). Sekaligus membantu survey teman2 panitia baksos.

          Gak puas makan-makan di Cibadak, setelah kami mampir di WTG, kami lalu didaulat oleh Asap untuk mampir ke Restoran KIM SUN. Lokasinya di Perumahan Bukit Cengkeh II , seberang kompleks Brimob, Cimanggis. Restoran KIM SUN ini terletak di rumahnya Asap, wah ... ini pucuk dicinta ulam pun tiba.. APA KATA DUNIA kalo kami menolak tawaran ditraktir makan ? Jadilah kami mencicipi makanan-makanan khas Palembang, dan tentu saja....free of charge.. Alhamdulillah perjalanan hari ini menyengkan sekali...Memang di balik kesulitan akan ada kemudahan ..hehe..

          Epilog

          "HALO..bisa bicara dengan Pak Orsi ?".. Senin pagi saya dikejutkan oleh telepon di hape dari phonebook yang bertuliskan Rafting Riam Jeram..
          "Ya, dengan Mas Adul ya.."(saya sendiri lupa apakah namanya Adul, Abdul, Abul, apa Arul)..jawab saya
          "Iya, pak Orsi..kemarin bagaimana?"
          "Seru pak, wah mantap raftingnya"
          "Kemarin debit air tinggi ya Pak?" tanyanya kembali
          "Iya, betul..mungkin debitnya sekitar 75 an Mas.."(dengan sok tau saya menjawab,.. lha wong debit airnya aja saya nggak tau gimana cara ngukurnya..saya kan cuma denger dari Dede bahwa ya debit pas rafting itu segitu..)
          "Wah, mohon maaf ini Pak seharusnya kalau sudah 75 kita sih menyarankan rombongan tidak turun, kecuali yang profesional"
          "Wah, pantes mas perahu saya kemarin kebalik..tapi gak papa koq, seru juga" saya berapologi. Berarti apa kita sudah dianggap professional ya
          "Baik, Pak kalau begitu terima kasih telah bersama Riam Jeram dan kami menunggu Bapak berarung jeram bersama kami kembali dengan membawa rombongan yang lebih banyak lagi" Mas Adul berpromosi.
          "Baik, Mas..sukses selalu" pembicaraan pun diakhiri..saya lipat Motorola V3 saya.

          Saya lalu berpikir, Wah kalau seandainya kemarin benar2 gak jadi turun arung jeram, rugi sekali kami datang jauh-jauh gak dapat apa-apa pengalaman kemarin itu benar2 berharga dan unforgettable..

          Kami akan kembali mengunjungimu Cicatih..
          Kami akan bawa LaTahzaner sebanyak-banyak untuk dapat mencicipi aroma segarnya mengarungi jerammu..
          Insya Allah.. Well be back..

          Sentra mulia,
          April 10, 2007

          Monday, July 31, 2006

          Green Canyon

          Perjalanan
          Akhirnya, setelah sekian lama merencanakan perjalanan dengan tim khandaq kami pun dapat meluangkan waktu untuk berjalan bersama-sama.

          Perjalanan ke Green Canyon ini direncanakan sedikit mendadak dikarenakan kami meyakini bahwa dengan cara inilah kami dapat merealisasikan perjalanan. Banyak rencana hanya akan membuat kami cenderung untuk menggagalkan perjalanan itu sendiri.

          Waktu pun kami tentukan bahwa perjalanan akan dilakukan akhir pekan. Jumat malam (28 Juli 2006) ) kami sepakat kumpul di cibening sepulang dari kantor dan perjalanan akan dimulai malam hari menuju ke Tasikmalaya.

          Perjalanan dimulai jam 10 malam mendekati jam 11. Saya membawa si merah dan teman2 yang berangkat ada bang Joy, uda Ed, dan bang Mbot. Perjalanan melalui tol baru yaitu cipularang dan keluar di Padalarang kemudian menuju arah Sumedang. ketika melalui lika liku nagrek, saya menyalip truk dan ternyata di seberang ada truk dari arah berlawanan. Sempat panik juga..dan untungnya saya bisa berhasil menyalip truk di depan..Fiuh..

          Tiba di Tasik jam 4 dan kemudian kami mencari masjid terdekat untuk istirahat sebentar dan sholat Shubuh. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Manonjaya dan tiba sekitar pukul 6. Karena saking lelahnya di perjalanan, kami istirahat sampai jam 11an dan terbangun karena lapar. Setelah menyelesaikan makan Brunch, maka kita pun segera berangkat menuju Green Canyon.

          Diperkenalkan oleh Turis Asing
          Green canyon adalah sebuah wisata air, dimana bentuknya adalah sungai dengan pepohonan hijau yang rimbun di sisi kanan dan kiri. Ada kesan mistis ketika kami menyusuri sungainya menggunakan perahu. Sekitar 20 menit tibalah kami ke ujung canyon dimana terdapat seperti gua yang di dalamnya terdapat banyak bebatuan. Kami berhenti disini dan berenang selama sekitar 1 jam. Banyak juga wisatawan lain yang sudah tiba terlebih dahulu.

          Green canyon menjadi terkenal sejak beberapa tahun yang lalu wisatawan Eropa yang mempopulerkan kawasan ini. Menarik ya, malah turis luar negeri yang menemukan tempat ini. Apabila bisa dikelola lebih baik, tentu akan lebih banyak lagi tempat wisata di Indonesia yang bisa dijadikan obyek pariwisata dan mendatang pemasukan dan membantu meningkatkan perekonomian daerah tersebut.

          Alhamdulillah telah diberikan kesempatan mengunjungi Green Canyon. Semoga di lain waktu bisa kembali lagi mengunjungi tempat wisata nan eksotis ini.

          Monday, December 27, 2004

          Ujung Genteng -- 24 Des 04

          Ujung Genteng -- 24 Des 04

          Semenjak tanggal 24 kemarin, saya dan beberapa orang pejuang Khandaq
          berkunjung ke pantai ujung genteng, Surade, Sukabumi. Di lokasi yang masih pristine itulah,kami berencana menetap selama dua malam. Tujuan kami kesana adalah untuk taliful qulub, menguatkan ikatan persaudaraan di antara kita sambil bertafakkur alam dan rekreasi menjauhi kota.

          Awal Perjalanan

          Perjalanan dimulai dari jumat pagi tanggal 24 jam 09 dari Bambu Apus (kediaman Master Yoga).
          Diawali dengan doa safar dan diiringi senandung yang kadang riuh rendah kadang berisik, kita pun berangkat. Mengendarai pesawat tempur Eddy, laskar pertama berangkat..
          Dikomandani oleh Pilot Eddy dan Navigator Saudagar Ade dan dengan tim konsumsi Hary dan Iji Joy Tobing serta Sound Engineer Oshi akhirnya perjalanan dimulai.

          Jam 12 kurang sikit, kamipun berlabuh untuk mensucikan diri menunaikan sholat Jumat di daerah Sukabumi. Gak sampe 1 jam, kamipun meneruskan perjalanan. Disinilah perjalanan menemukan ujiannya. Bukan karena kecelakaan, rek.Tapi karena kami belum makan siang dan gak ada tanda2 tempat makan siang yang cukup representative. Walhasil, ada tukang sawo, kamipun mampir (mborong nih ceritanye biar gak laper).

          Perjalanan berlanjut, sound engineer pun mulai beraksi demi melupakan rasa kriuk-kriuk di paruik (laper di perut-red). Semua kaset yang ada pun dilahap habis, sampai suara jadi serak-serak kering. Untungnya akhirnya ada rumah makan nan asri di pinggir jalan,... saat itu jam sudah menunjuk pukul 3 sore...So, It's show time...

          Ternyata sambel orang pegunungan itu galak-galak ya.. Oshi yang biasanya gak doyan makan sambel, ceritanya penasaran sama bentuk sambel si Ibu warung yang warnanya agak hijau kemerahan itu. Diambillah satu sendok teh sambel ke piring. Begitu dicicipi se-coel, ...Duarrrr...dunia serasa berputar, pening rasanya kepala...terhuyung-huyung diriku mencari air untuk memnghilangkan rasa pedas, maka ditenggaknyalah bergelas-gelas air. Wah belum hilang juga rasa pedas yang membakar itu di mulut. "GANASSSS.... ini sambel nonjok banget" . Walhasil Oshi pun mencomot permen alpenliebe, yang ada di warung si Ibu... Alhamdulilah, normal kembali tuh lidah. Baru kali ini makan siang pake permen hehehehe...

          Abis makan kenyang, kami jalan lagi, kali ini lebih tenang dan terkantuk-kantuk, sehingga sang navigator nyetel kaset yang iramanya menghentak-hentak. Subhanallah, alangkah indahnya suasana pinggir kiri dan kanan jalan. Pepohonan rindang seakan menjemput kedatangan kita. Tak habis-habisnya memandangi pemandangan pinggir jalan, sampai tak terasa sudah terlihat nyiur-nyiur indah yang menandakan bahwa kita kan segera sampai di pantai. Subhanallah, fabi ayyi ala irobbikuma tukadz-dzibaan?

          Kira-kira Jam 4 kita mendarat di Cottage Ummi, penginapan tempat kita kan menumpang..(Lho..numpang toh?). Penginapan ini bentuknya sangat unik. Bangunannya terbuat sebagian besar dari bambu, sebagaimana bangunan kampung pada umumnya. Pada bagian dindingnya, semuanya terbuat dari terpal plastik yang disusun berwarna-warni. Tidak seperti biasanya gubuk2 bambu yang dindingnya terbuat dari gedek bambu.

          Tempat ummi ini berada di tengah2 hutan belukar. Konon, tempat ini adalah tempat TNI AU melakukan latihan. Karena disana bukan tempat rekreasi komersil, maka tidak ada hotel atau penginapan permanen berserta turis-turisnya. Ummi ini adalah orang asli sana yang diminta untuk menjaga kawasan tersebut. Untuk masuk ke tempat Ummi, kita harus berjalan selama sekitar 15 menit melalu hutan2 dan semak belukar disisi kiri kanan jalan. Serasa memasuki kawasan hutan lindung di kaki gunung euy..Mobil sebenarnya bisa masuk, tapi sebaiknya sebelum pasang naik. Karena bila pasang telah naik maka jalanan tempat dilalui mobil akan tertutup air laut.

          Laskar kedua ditargetkan akan tiba dua jam setalh kedatangan kita disana.
          Sambil nunggu laskar kedua mendarat, kitapun sholat ashar dulu, berbenah dan nyemplung ke pantai karang..eh sepadan pantai. Main-main air dulu lah..!

          Setelah maghrib, laskar kedua dengan mengendarai 'jet' kapsul mendarat dengan mengirimkan tim advancenya yaitu Donny Solid AG dan Presiden Suharto. Pesannya singkat yaitu.....
          "tolong jemput laskar lain yang tertinggal di jet."
          Lalu diutuslah Daku dan Ade sang Saudagar untuk menjemput jet kapsul dengan menunggang bebek 4 tak. Melewati semak belukar di sisi kiri kanan lumayan agak-agak ngeri juga, apalagi kepikiran kalau tiba2 nongol ada ular gitu dari atas pohon, wahhh gak kebayang deh. Lampu sorot motor yang terang itupun tidak dapat menghilangkan kesan angker dan gulitanya suasana saat itu.

          Waktu malam pertama

          So pasti yang namanya anak pantai gak bakal melewatkan malam hari.
          Setelah sholat Isya, kita menyusun agenda berikutnya, apa yang mau dilakukan pada malam pertama ini...
          Kesepakatannya adalah:
          Agenda pertama :
          - Memanggang ayam-ayam yang sudah siap santap, pake kayu bakar
          Agenda kedua :
          - Makan ngariung rame-rame di pinggir pantai
          Agenda ketiga, dan yang paling penting:
          - Tafakkur 'alam, merenungi kecilnya diri ini di hadapan alam semesta dan sang Pencipta

          dan dilanjutkan dengan Menikmati Bintang Malam di Tepi Pantai.

          Masa sih ke pantai tapi gak menikmati pemandangan pantai malam hari ?
          Kita ngobrol-ngobrol lho sampe ngantuk (baca: tidur), sementara di kejauhan masih terlihat banyak nelayan yang sibuk nyari ikan... Entah sampe jam berapa kami di tepi pantai..sungguh damainya alam malam itu.
          OK, agenda besok adalah berburu ikan..!!


          Pagi Hari

          Ba'da sholat shubuh, sambil menunggu terbitnya matahari, kita semua keluar ke sepadan pantai. Di sepanjang pantai ke arah laut kira-kira 500 meter, kita berjalan bukan di atas pasir, melainkan karang yang menjorok ke pantai. Sangat unik... Di atas karang ini kami main bola, foto-foto, mencari ikan-ikan kecil yang masuk ke dalam ceruk-ceruk karang.

          Sambil menyisir pantai kita menuju kampung nelayan yang berjarak sekitar 1 km dari tempat kita berada. Desir-desir angin pantai di pagi hari membuat kita terhenyak akan sungguh indahnya suasana alam pantai. Betapa alam yang telah diwariskan kepada kita ini telah begitu banyak memberikan kehidupan kepada manusia. Akan tetapi, banyak dari manusia yang tidak memperdulikan alam dengan merusaknya, menjadikannya sebagai tempat pembuangan limbah dan sampah produksi manusia. Sangat disayangkan...

          Sarapan dengan ikan bakar yang masih segar memang berbeda rasanya, apalagi sambil duduk di dalam warungnya para nelayan, wah serasa back to nature banget loh.. Setelah puas makan dan sejenak dua jenak beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan, tapi melalui jalan lain yang memutar. Waktu telah menunjukkan pukul 9, tak terasa.. Kami melalui pasar ikan, dan sempat melihat banyak ikan2 yang masih ditimbang oleh para pedagang ikan. Sebuah geliat pasar belayan di pagi hari. Di arah pantai pasar tersebut, kami turun dan kembali menyusuri pantai kembali ke tempat semula.

          Siang hari

          Ya, disinilah ujung paling selatan dari Jawa Barat. Jika teman-teman melihat peta ujung genteng, maka teman2 akan melihat bagian menonjol di selatan dari ujung genteng. Disanalah kami berada saat itu.

          Siang ini, kami berencana untuk berkungjung ke arah barat laut, menyusuri pantai barat hingga sampai ke pantai Pangumbahan yang terkenal itu. Dengan mengendarai panther, kamipun menyusuri pantai2 putih yang terlihat sangat cerah disinari oleh matahari. Karena saat itu bukan liburan sekolah, maka pengunjung pun tidak terlihat banyak. Di sisi kanan terlihat banyak penginapan-penginapan disewa oleh para pengunjung. Di pantai ini sempat terjadi insiden, dimana mobil yang kita tumpangi terperosok masuk ke dalam lubang pasir. Dengan bantuan dahan2 kelapa yang berserakan, akhirnya kita berhasil mengeluarkan roda ban dari pasir. Walhasil, mobil jadi penuh pasir sekarang...

          Ujung genteng, nama yang tidak asing di kalangan pecinta alam terbuka. Bahkan kalau kita browsing di internet, ujung genteng sering disebut-sebut sebagai pantai indah (karena pasirnya putih bersih) dan memiliki ombak yang sangat tinggi yang katanya enak buat surfing. Berhubung ga pernah surfing, selain surfing di internet :p jadinya belum pernah ngalamin tuh.

          Entah kenapa, muter-muter hampir satu jam, kita gak sampai juga ke pangumbahan,daripada buang waktu ga jelas tujuannya akhirnya agenda diubah, kita kembali ke penginapan dan selanjutnya membeli ikan di pasar ikan...Yap, Anda benar..kali ini ikan akan jadi santapan kita nanti malam. Nyammi..! jadilah ikan2 tersebut berpindah ke mobil kita untuk jadi hidangan malam hari..sedappp.

          Siang itu sepulang keliling2, kami merencanakan untuk kegiatan sore di pantai. Rencana disusun, ba'da sholat ashar kita akan mencari tempat yang pasirnya jernih untuk tempat berenang. Masak ke pantai tapi gak berenang... sayang donk?!
          Gak terasa sampai maghrib kita berenang-renang...

          Malam kedua

          Malam terasa sangat indah, ini adalah malam kedua kita di ujung genteng. Setelah mandi dan sholat Maghrib, kami sudah siap dan duduk manis menunggu ikan yang sedang disiapkan. Kebetulan kita minta tolong ke keluarga Ummi untuk memasakkan ikan2 tersebut. Hehehe...dasar pemalas!!

          Alhamdulillah, perut kenyang..akhirnya kami pun saling bertukar cerita sesama kita. Mungkin sebagian cerita itu adalah cerita yang sudah berulang-ulang kita dengar, dari dia lagi dia lagi juga. Tapi karena suasana santai yang tercipta disana membuat kita jadi betah dan nyaman. Bang Joy pun turut menyumbangkan suara emasnya dengan bersenandung lagunya Ebiet G Ade. Lagu tentang alam yang sangat pas dengan suasana malam itu. Kita tidak pernah menyadari bahwa lagu yang dinyanyikan pada malam itu menjadi lagu pilu bagi bangsa Indonesia di hari berikutnya.

          Pagi hari

          Allahu akbar...!!

          Pagi hari yang syahdu, di tanggal 26 Desember 2004. Ba'da shubuh, ketika matahari masih jua menampakkan sinarnya, kami sudah bersiap-siap berangkat menuju Jakarta. Walaupun masih belum mandi, tapi kita semua sudah menampilkan wajah yang segar dan ceria.

          Alhamdulillah, by His Grace, kita semua dapat menikmati rekreasi 3 hari di ujung genteng. Sebuah perjalanan yang menyisakan kenangan yang tertulis selalu di lembaran sejarah tim Khandaq dan semoga kelak di kemudian hari tim ini tetap solid dan istiqomah dalam menapaki perjalanan dan perjuangan bersama-sama.